0

Daftar Isi Blog

0

The Intern

Label:



Judul : The Intern 
Sutradara : Comedy 
Skenario : Nancy Meyers 
Pro duksi : Warner Bros. 
Pictures Pemain : 
                 Robert De Niro, Anne Hathaway, Rene Russo 
Durasi : 2 jam 1 menit 

BEN Whittaker (Robert De Niro) adalah pensiunan berusia 70 tahun yang hilang pegangan setelah kematian istrinya. Ben tinggal seorang diri di rumahnya yang resik. Anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di kota lain. Hari-harinya diisi dengan menyibukkan diri: ke Starbucks pukul 7 pagi, membeli lasagna beku porsi satu orang, berlatih yoga dan taichi, sampai les bahasa Mandarin, tapi tetap saja tak dapat mengisi kesepiannya. 




Pernah dia habiskan tabungan untuk keliling dunia. Tapi, begitu pulang, dan tak ada siapa pun yang menyambut di rumah, kembali Ben merasa kehilangan tujuan 

Di sebuah sudut jalan, Ben melihat iklan “magang senior” untuk toko baju online yang sedang berkembang pesat, About the Fit (ATF). Dia pun melamar. Ben diterima bersama empat pemagang senior dan satu junior, dan ditempatkan di “bagian umum” untuk sang pemilik ATF, Jules Ostin (Anne Hathaway). Jules adalah perempuan stylish berusia 30-an yang bergerak cepat. Dia bahkan naik sepeda di dalam kantor demi menghemat waktu. Kadang ikut menerima telepon keluhan pelanggan untuk sekadar mengecek basis kliennya, dan memeriksa detail tampilan website. Jules pun pulang paling akhir.

Kerjanya yang sangat sibuk itu memicu konflik di keluarga. Ibunya mencereweti agar dia tidur cukup, suaminya (yang bapak rumah tangga) resah seiring dengan makin besarnya perusahaan Jules, dan makin sedikit waktu bersama putrinya yang masih TK. Belakangan, ketahuan kalau sang suami berselingkuh. Dalam keadaan demikianlah Ben masuk kehidupan Jules dan mengenal keluarga bos barunya ini. Akankah Ben menggunakan kebijaksa-naannya untuk ikut menyelesaikan masalah pekerjaan dan keluarga Jules, sekaligus menemukan arti baru dalam hidupnya sendiri? 

Dengan cerita dan alur yang standar, The Intern bisa tampil menggigit dan sejalan dengan perkembangan dunia kerja terbaru. Jangan tertukar film ini dengan The Internship yang diperankan Owen Wilson dan Vince Vaughn pada 2013. The Intern mengeluarkan humor dan kesedihan yang sama porsinya, dengan tone mewah dan lembut. Suguhannya “sesuai yang dijanjikan”, tak kurang, tak lebih. 

Bukan berarti karya ini buruk, melainkan pelajaran yang dapat dipetik, perasaan yang diperoleh, dan kebijaksanaan yang tersampaikan setara dengan tiket yang dibeli untuk menonton sebuah film komedi. Film ini bagai selimut tebal yang membungkus kita dalam sebuah pelukan nyaman. Jadi jangan bertanya mengapa film ini tidak dibuat lebih kasar, lebih tangguh, dan lebih cerdas, karena memang demikianlah idealnya. Naskah Meyers punya tone mantap dan menikung di tempat yang tak disangka-sangka. Misalnya dia menyelipkan adegan e-mail salah kirim yang lucu, padahal jika diperhatikan, tidak bersambungan ke adegan sebelum maupun sesudahnya. 

Jika pernah menonton Something’s Gotta Give (2003), It’s Complicated (2009), What Women Want (2000), The Parent Trap (1998), atau The Holiday (2006), Anda akan paham mengapa Meyers membuat The Intern seperti ini. Termasuk subplot masuknya seorang pemijat profesional (masseur), Fiona (Renee Russo), yang menarik perhatian Ben. Walau skenarionya sedikit datar dan standar, syukurlah aktris-aktornya mengeksekusi kewajiban mereka dengan cukup baik. De Niro memainkan karakter nyata dan bisa kita temui setiap hari, bukan sekadar kumpulan “akting hebat” dan ekspresi wajah yang kuat. Melihat Ben menyetir mobil untuk Jules dalam posisi sopir dan penumpang sambil mengeluarkan satu-dua kalimat bijak, kita seperti diingatkan pada peran ikonis De Niro di Taxi Driver (1976) bersama Jodie Foster. Hathaway juga memberikan setiap momen dan kalimat dengan apik, sampai-sampai tak tega melihatnya menangis hingga merah seluruh wajahnya. 

Sinematografer Stephen Goldblatt (The Help dan Get on Up) membuat tampilan cantik, meski terlalu teratur dan rapi, hingga karakterkarakternya terasa seperti berjalan melalui area ruang pamer furnitur mewah. The Intern anggun, mulus tanpa cacat, tapi masih kurang di unsur tegangan dan percikan semangat yang membuatnya hidup, kecuali momen ketika Ben dan Jules berseberangan paham. Pada akhirnya, memang Hathaway dan De Niro yang menuntaskan tugas menghibur penonton, bukan Meyers si sutradara atau Meyers si penulis skenario. ■ 


0

Lily Bunga Terakhirku

Label:




Judul: Lily Bunga Terakhirku 
Gendre: psycho-thriller 
Sutradara: Indra Birowo 
Skenario: Priesnanda Dwi Satria, Ilya Sigma


JANGAN terkecoh oleh judul yang mirip drama cinta garing. Jangan juga terpengaruh oleh poster yang standar, sestandar-standarnya film Indonesia. Indra Birowo punya kado bagus untuk penonton film Indonesia.

Bercerita tentang Tura, yang hidupnya berhenti saat menyaksikan ibunya tewas setelah diperkosa dua lelaki yang menyusup ke rumah. Dia masih bocah kala itu, tak dapat melakukan apa-apa selain bersembunyi dan menahan supaya tangisnya tak bersuara. Setelah dua lelaki itu pergi, seorang diri Tura menguburkan ibunya di halaman rumah.

Hingga dewasa, Tura (Baim Wong) tetap tinggal di rumah pegunungan itu, mengurus kebun bunga warisan ibunya dan menjualnya dalam bentuk karangan bunga. Salah satu pelanggan adalah Bunda (Wulan Guritno), yang mengelola usaha prostitusi kelas atas di sebuah rumah mewah. Tura sendiri yang mengantar bunga-bunganya. 

Setiap bunga datang, Bunda akan memilihkan satu kuntum lili untuk disematkan di dada Lily (Salvita Decorte), salah seorang “anak”-nya yang juga primadona di kalangan pelanggan. Namun, pada kedatangan Tura yang kesekian kali, Lily ingin Tura-lah yang memilih dan menyematkan bunga lili di dadanya. 

Tura, yang terus dibayang-bayangi trauma masa lalu, masih belum berdamai dengan keadaan. Dia tak henti menyalahkan dirinya lantaran tak berbuat apa-apa ketika sang ibu sedang sangat butuh bantuan. Tura menempuh jalan sendiri dan rahasia: dia meringkus tiap ada pemerkosa yang jadi buron, lalu dibawa ke gudang di belakang rumah. Dan dalam keadaan babak-belur dantubuh terikat ke brankar, pemerkosa itu dicekoki ramuan maut bunga trompet, lalu brankar didorong ke dalam kamar gas. Api pun dinyalakan. Whussss…. 

Abu jenazah dikumpulkan,dipakai sebagai pupuk, sebagaimana ibunya pernah mengajarkan pupuk terbaik adalah benda yang pernah hidup. Pemerkosa yang jadi buron lenyap sudah, berubah wujud jadi bunga-bunga yang cantik dan subur. 

Lily mendapat klien orang penting (Tanta Ginting) yang, menurut Bunda, sangat menentukan masa depan bisnisnya. Dia memperlakukan Lily dengan sangat kasar, bahkan memperkosanya. Namun Bunda tak mau merisikokan bisnisnya, dan meminta Lily kembali ke kamar untuk melayani klien penting ini. Kedekatan Lily dengan Tura seperti ruas bertemu buku. Mereka sama-sama merasa menemukan jalan keluar atas masalah mereka pada diri orang di hadapannya. 

Debut Indra Birowo sebagai sutradara film layar lebar patut dipuji. Indra keluar dari stereotipe yang menempel pada nama besarnya sebagai komedian untuk membuat film “nyeleneh” yang bergenre psycho-thriller. Plot dan visualnya terasa sekali seperti film-film Eropa yang “tak banyak tingkah”, hanya berfokus pada cerita dan menciptakan karakter yang kuat. Tengok saja setnya yang cuma dua, di rumah Tura dan di rumah Bunda. Karakter utamanya juga tiga itu saja: Tura, Lily, dan Bunda. 

Namun penonton akan dibuat betah duduk hingga film habis tanpa merasa bosan. Dialognya diperhatikan benar kecuali satu-dua yang lolos, seperti kebiasaan Baim Wong bilang “ya?” tiap jeda kalimat. Bahkan panggilan “bunda” untuk karakter yang dimainkan Wulan Guritno juga sudah dipertimbangkan masak-masak, bukan sekadar ingin beda dari profesi germo lain yang identik dengan sapaan “mami”. 

Indra diuntungkan karena didukung pemain yang punya wawasan akting bagus sehingga, ketika disodori peran, bisa dengan mudah mencerna, mudah mengembangkan karakter, dan improvisasi tidak lari ke mana-mana. Chemistry antarpemain pun kuat terasa. Baim Wong, yang biasanya berperan sebagai tokoh protagonis yang lembut, romantis, dan religius, kini membuktikan mampu bermain sebagai psikopat. Dari sosok penyayang yang lembut seketika berubah jadi obsesif dan kejam. Salvita Decorte, yang berlatar belakang model, di sini berperan sebagai penjaja seks kelas atas yang memberontak ingin lepas dari pekerjaan itu. Di antara gelontoran film drama percintaan ala FTV, religi (padahal ujung-ujungnya drama percintaan juga), dan komedi, film ini menawarkan racikan yang beda. Sedap. ■ SILVIA

0

Black Mass

Label:


SETELAH kelamaan berlibur di Karibia, Johnny Depp akhirnya kembali bermain serius. Kali ini di Black Mass, yang diangkat dari kisah nyata gangster besar yang sarat adegan pembunuhan, penyiksaan, pengkhianatan, dan balas dendam. Semua berangkat dari kerja sama rahasia antara geng kriminal kelas atas Boston dan FBI. Winter Hill Gang milik James “Whitey” Bulger (Johnny Depp) adalah penguasa Boston Selatan, tak lama setelah Bulger dibebaskan dari satu dekade hukuman penjara federal, termasuk Alcatraz. Geng ini menjalankan bisnis pemerasan, penipuan, narkoba, hingga pencucian uang.

Adik Bulger, Billy (Benedict Cumberbatch), yang merupakan senator paling berpengaruh di Negara Bagian Massachusetts, menutup mata atas sepak terjang abangnya. Satu-satunya yang tak dapat Bulger kontrol adalah takdir atas anak tunggalnya, bocah laki-laki berusia 6 tahun yang mati akibat reaksi alergi suntikan. Ditambah dengan kematian ibunya, kegembiraan hilang dari wajah Bulger..

Pada 1975, FBI mengajaknya “kerja sama” menggulung mafia Italia, keluarga Angiulo, yang menguasai Boston Utara. Tentu saja Bulger tak menolak, karena mengalahkan Angiulo berarti tiket untuk menguasai seluruh Boston. Informasi yang dia berikan kepada agen FBI, John Connolly (Joel Edgerton), membuat Angiulo dapat diringkus. Seluruh Boston kini milik Bulger. Connolly, yang tak lain kawan masa kecil, dia jadikan “Yes Man”-nya..

Dari preman kampung di kawasan kumuh Boston, Winter Hill Gang jadi gangster besar karena operasinya dilindungi FBI. Mereka berlanjut membunuh sejumlah pengusaha berpengaruh seiring ambisi Bulger yang ingin meluaskan usaha di luar Boston, yang artinya sudah di luar perjanjian rahasia dengan FBI. Keberatan Connolly tak diindahkan. Sementara itu, di kalangan internal FBI baru saja terjadi pergantian pimpinan. Bos baru ini dikenal lurus dan tak kenal ampun. Segera dia mengendus ada yang tak beres dengan Connolly serta cara FBI menangani Winter Hill Gang dan Bulger..

Setelah mendapat nominasi pertama Oscar sebagai Aktor Terbaik dalam Pirates of the Caribbean (2003), Johnny Depp seakan-akan terkubur dalam karakter Jack Sparrow melalui tiga sekuel Pirates (yang ke-4 disiapkan untuk 2017)..

Banyak bakatnya jadi tersia-sia. Padahal Sparrow diterima publik tak lebih sebagai pengisi kekosongan akibat absen panjang Indiana Jones yang tanpa pengganti. Peran yang lebih “konvensional” di The Tourist (2010) dan Transcendence (2014) tak lebih dari perilaku bunglon. Black Mass mesti menggantikan semua itu. Dalam film baru ini, Depp sekali lagi memakai kulit lateks dan wig metamorfis agar sebisa mungkin mendekati kondisi nyata. Rambut pirang tipis disisir ke belakang, gigi menghitam, dan bola mata biru (menggunakan contact lens)..

Jaket kulit hitam menguatkan pengaruhnya, kalung rantai emas melingkari leher, kacamata hitam aviator menggantikan topi fedora khas gangster, dan bayang-bayang para aktor di fasad yang dingin. Terasa sekali ikatan tak kasatmata ke tonggak film-film gangster, seperti Goodfellas (1990), Carlito’s Way (1993), The Departed (2006), dan Donnie Brasco (1997) yang dimainkan Depp..

Dia menyelam hingga ke dasar untuk memerankan sosok James “Whitey” Bulger, gembong penjahat Boston Selatan dari era 1970-an hingga 1994, disusul jadi buron selama 16 tahun. Dari puluhan nama, Bulger hanya dikalahkan Usamah bin Ladin dalam daftar Sepuluh Paling Dicari FBI..

Sutradara Scott Cooper tak pernah memaksa Depp untuk “berakting”. Tak ada momen ledakan emosi ala Al Pacino, tak ada akting membanting-banting tak masuk akal seperti Pesci. Bulger menghadapi kehilangan yang berat dengan menggemeretakkan gigi dan membalikkan meja, tak pernah berlebihan. Sewaktu Bulger tanpa ekspresi menembakkan peluru ke arah anggota geng yang tak sepakat atau mencekik musuh dengan tangan kosong, dia jadi sesosok malaikat maut yang metodikal dan sadar benar apa yang dilakukannya. Cooper melipatgandakan adegan kekerasan guna mendapat impact visual yang tajam dan menunjukkan bagaimana realisme jalanan. Dia menghindari tindakan ekstrem dan bentuk adegan potong-cepat seperti yang sekarang sedang jadi tren. .

Namun khusus beberapa adegan kunci dramatis dalam ruang, Cooper tampaknya mendekati penampilan film-film Godfather, dengan cara kerja yang sangat mirip Coppola. Komposisinya dimulai secara hati-hati, shot-shot keren dibuat dengan keketatan yang tak biasa, dan close-up-nya terjaga..

Mark Mallouk dan Jez Butterworth menulis skenario berdasarkan testimonium anak buah lama Bulger setelah mereka ditahan dan saat bos mereka jadi buron. Komentar mereka tak bertentangan, bahwa Bulger adalah penjahatnya penjahat, orang paling jahat di Boston. Tindakannya benar-benar mengerikan. Dia bisa memberi perintah tanpa satu kata pun kepada anggota geng..

Setelah akhirnya tertangkap pada usia 80- an, Bulger divonis dua kali hukuman penjara seumur hidup plus lima tahun setelah didakwa 19 kasus pembunuhan, pemerasan, penipuan, penjualan narkoba, dan pencucian uang. Aktor-aktor pendukung membuat penampilan Depp makin bersinar, yakni Adam Scott dan Kevin Bacon sebagai agen federal, serta Corey Stoll sebagai jaksa federal yang bertekad mengalahkan Bulger. Cumberbatch demikian elegan sebagai adik Bulger yang berhasil keluar dari daerah kumuh, punya sembilan anak, dalam jangka panjang mengabdi sebagai Presiden Senat Massachusetts, lalu jadi Presiden University of Massachusetts. Kali ini tak ditemui Cumberbatch beraksen Inggris. .

Depp sekarismatik karakternya, meyakinkan dan mengerikan. Insting Depp untuk mengamati, menjaga, dan memperkaya sesuatu, lalu dikeluarkan saat dibutuhkan, mendapat ganjaran besar di sini. Penampilannya jauh lebih meyakinkan dibanding peran gangster sebelumnya, sebagai John Dillinger dalam Public Enemies (2009) garapan Michael Mann. Salah satu yang terbaik dalam kariernya, dan klasik (Silvia G.)

0

Azumi 1

Label:




Film Azumi bercerita tentang sekelompok anak muda yang sejak kecil dididik untuk menjadi pembunuh oleh seorang samurai. Salah satu dari anak-anak muda tersebut adalah Azumi (Aya Ueto), yang juga merupakan satu-satunya perempuan di kelompok itu. Ibunya meninggal saat ia masih kecil karena dibunuh, sejak itu ia diasuh oleh si samurai itu. Bersama-sama dengan 9 kawannya, sejak kecil Azumi dididik bela diri serta ilmu pedang. Lalu pada suatu hari, sang guru (yang dipanggil Jiji) akhirnya memberikan suatu tugas pada mereka, yaitu membunuh 3 orang penguasa klan toyotomi yang pada saat itu bermaksud untuk mengadakan perang (detailnya saya gak begitu ngerti). Sebelum misi tersebut dijalankan, sang guru memberi tantangan pada mereka. Mereka disuruh berpasangan dengan teman yang paling mereka sukai, dan saling membunuh. Yang hidup, itulah yang akan melanjutkan misi mereka (ini juga salah satu cara agar mereka sanggup menjadi pembunuh berdarah dingin). Awalnya mereka hanya diam saja, tidak tahu harus berbuat apa. Lalu, Ukiha (Narimiya Hiroki) menuruti perintah gurunya dan menjadi yang pertama melakukan tugas itu, dengan membunuh pasangannya. Akhirnya pertarungan antara para sahabat itu dimulai. Azumi yang sebenarnya menaruh hati pada Nachi (Shun Oguri) yang merupakan pasangannya, awalnya hanya mampu diam dan tak mampu berbuat apa-apa. Namun, akhirnya ia terpaksa membunuh Nachi karena Nachi memulai serangannya. Akhirnya, dari kesepuluh orang itu tersisa lima orang. Dengan perasaan pilu karena mereka terpaksa membunuh sahabatnya sendiri, misi pun dimulai. Bersama jiji, sang guru, mereka memulai tugas mereka untuk membunuh tiga orang penguasa ini: Nagamasa Asano, Kiyomasa Kato, dan Sanada Masayuki (btw mereka ini adalah tokoh-tokoh nyata yang ada dalam sejarah Jepang). Tentunya misi ini tidaklah mudah untuk dijalankan, apalagi para penguasa ini dilindungi oleh banyak prajurit serta pembunuh-pembunuh handal, seperti Saru, Bijomaru (Joe Odagiri), dan yang lainnya. Jadi, bagaimana selanjutnya? Apakah Azumi dan kawan-kawannya akan berhasil menjalankan misi tersebut? Siapakah yang akan tetap bertahan hidup?

My Opinion:

Film ini termasuk film action jepang yang bagus sekali. Pertempurannya hebat, luar biasa, sekaligus bikin tegang juga. Ceritanya juga menurut saya bagus, apalagi di sini juga kita diperlihatkan pada perasaan-perasaan yang berkecamuk di hati Azumi. Di satu sisi, dengan penurutnya ia menjalankan tugasnya sebagai pembunuh, namun di sisi lain masih ada rasa kemanusiaan dalam dirinya. “Guru, apa benar orang-orang yang kita bunuh adalah orang jahat?” itu adalah salah satu pertanyaan yang menurut saya lumayan nancep. Melihat banyaknya prajurit yang melindungi para penguasa itu dibunuh oleh Azumi dkk, bikin saya bertanya-tanya hal sama juga. Emang bener ya mereka semua itu jahat? Bisa saja kan mereka bekerja pada penguasa itu karena terpaksa untuk menghidupi keluarganya? Hal itulah yang dipikirkan Azumi. Saat bertemu dengan Yae, gadis manis yang merupakan seorang pemain sandiwara yang teman-temannya dibunuh oleh pembunuh yang mengincar Azumi dkk, ia mulai merasakan kebimbangan. Yae mengajaknya untuk hidup normal bersamanya dan berhenti menjadi pembunuh. Azumi pun mulai berpikir untuk hidup normal seperti orang-orang biasa. Namun, serangan orang-orang jahat yang menimpa mereka menyadarkan Azumi bahwa takdir memang kejam. Ia menyadari bahwa menjadi pembunuh adalah takdirnya, dan kemana pun ia pergi, takdir itu selalu memburunya dan ia tidak akan bisa kabur lagi.

Buat akting pemainnya juga bagus-bagus. Aya Ueto sukses memerankan Azumi, samurai cantik yang sangat mahir memainkan pedangnya. Ekspresinya waktu membunuh bagus sekali. Apalagi pas adegan akhir, ketika dia sendirian membunuh ratusan orang itu (yang agak gak masuk akal juga sih, tapi karena ini film, telen aja lah). Saya juga suka sama Hiroki Narimiya di sini sebagai Kiha yang paling total dalam menjalankan tugasnya dan sangat setia pada gurunya. Cakep deh dia di sini XD. Yang perlu dikasih empat jempol aktingnya di sini tentu saja Odagiri Joe, yang berperan sebagai Bijomaru, seorang pembunuh yang menjadi musuh Azumi dkk. Sumpah, aktingnya psycho banget di sini, udah gitu wajahnya cukup cantik lagi.

Film Azumi 1 (2003) ini masih ada lanjutannya, yaitu Azumi 2: Death or Love. Di film ini Azumi melanjutkan misinya yang belum selesai di film pertama, mungkin film keduanya akan saya review juga kapan-kapan.

0

Pretty Women

Label:



Pretty Woman merupakan sebuah film Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 1990. Film yang disutradarai oleh Garry Marshall ini pemainnya antara lain ialah Richard Gere, Julia Roberts, dan lain-lain. Tanggal rilisnya pada 23 Maret 1990.

Kisah berawal ketika Vivian mengusulkan kepada Edward agar membawanya untuk memandu pengusaha tersebut dengan sejumlah bayaran lantaran tertarik pada mobil sport milik kawan Edward yang dipinjam pengusaha tersebut. Rupanya Vivian tahu banyak soal mobil sehingga membuat Edward terkesan. Akhirnya Edward mengundang Vivian untuk melewatkan malam di hotel bersamanya.

Ternyata Edward dan Vivian menyukai satu sama lain dan menikmati kebersamaan mereka. Padahal latar belakang mereka sangat berbeda bagaikan langit dan bumi, Edward Lewis adalah pengusaha kaya yang tidak kenal belas kasihan dalam spesialisasinya, yakni mengambil alih perusahaan-perusahaan dengan harga murah dan menjualnya sepotong demi sepotong dengan harga yang mahal. Sedangkan Vivian Ward yang datang dari kota kecil namun tidak punya keahlian satupun lantaran drop out dari sekolah menengahnya, akhirnya terpaksa menjadi pelacur untuk menyambung hidupnya di Los Angeles.

Edward yang begitu menikmati kehadiran Vivian sehingga tidak mau pertemuan mereka berakhir begitu saja. Kebetulan ia membutuhkan seorang wanita yang dapat mendampinginya dalam berbagai acara pesta bisnis maupun sosial, sehingga menawarkan Vivian agar menjadi escort-nya dengan imbalan bayaran sebesar US$ 3.000, pakaian mahal yang bercita rasa tinggi serta mengunjungi opera.

Tentu Vivian menerima tawaran tersebut, namun masalahnya ia adalah gadis udik yang tidak mengenal tata aturan kelas elit. Oleh karena itu, manajer hotel Edward yakni Bernard "Barney" Thompson diminta untuk melatih Vivian bagaimana menempatkan diri dalam berbagai situasi, berdandan, mengikuti berbagai aturan yang harus dipatuhi agar Vivian dapat menjadi wanita anggun serta berkelas. Yang unik adalah perubahan sikap Barney yang tadinya begitu curiga atas kehadiran Vivian di hotel mahalnya, akhirnya menganggapnya seperti keponakannya sendiri.

Ternyata usaha Barney dapat dikatakan cukup berhasil sehinggga Vivian tidak lagi menjadi wanita kampungan dan dapat menemani Edward dalam berbagai acara. Hari demi hari berlalu ternyata hubungan mereka tidak lagi terbatas pada rasa suka belaka, namun telah tumbuh menjadi perasaan yang lebih dalam, yakni cinta. Selain itu, kebersamaan mereka telah mempengaruhi satu sama lain seperti Edward makin lama makin lembut hatinya dan telah berkurang sikap tidak kenal belas kasihan, sedangkan bagi Vivian adalah kesempatan kedua untuk memulai hidup baru.

Tetapi timbul masalah karena Vivian dikenali oleh salah satu rekan bisnis Edward sebagai pelacur yang ternyata pernah dikencaninya sehingga menimbulkan suasana tidak mengenakkan di antara Vivian dan Edward. Apalagi Edward tampak seolah mengingkari adanya perasaan cinta di antara keduanya. Akibatnya Vivian merasa tersinggung atas sikap Edward yang seperti melecehkan dirinya. Selain karena merasa masih mempunyai harga diri, maka ia pergi meninggalkan tanpa mengambil imbalannya. Tidak hanya itu, Vivian juga meninggalkan pekerjaan haramnya untuk kembali ke jalan lurus.

Bagaimana sikap Edward dalam menghadapi kepergian Vivian yang sebenarnya dicintainya dari hidupnya ? Lalu apakah mereka memang ditakdirkan untuk tidak menyatu ? Jangan Anda lewatkan film komedi romantis yang berhasil melejitkan karier Julia Roberts ke jajaran artis papan atas Hollywood dan juga berhasil memperlihatkan kematangan akting Richard Gere yang selama ini dianggap sebagai simbol seks belaka. Apalagi film "Pretty Woman" ini berhasil mencetak box office dalam peredarannya di Amerika Serikat maupun dunia serta memperoleh pujian dari para kritikus.

Pemain

Julia Roberts sebagai Vivian Ward

Richard Gere sebagai Edward Lewis

Ralph Bellamy sebagai James Morse

Jason Alexander sebagai Philip Stuckey

Laura San Giacomo sebagai Kit De Luca

Alex Hyde-White sebagai David Morse

Amy Yasbeck sebagai Elizabeth Stuckey

Elinor Donahue sebagai Bridget

Hector Elizondo sebagai Bernard Thompson

Judith Baldwin sebagai Susan

0

Life of PI

Label:


Sutradara : Ang Lee
Ditayangkan : 12 Nopember 2012 

SINOPSIS FILM LIFE OF PI :

Film Life of Pi bercerita tentang kisah petualangan Pi yang sangat menakjubkan. Pi adalah anak pemilik kebun binatang di India. Kemudian keluarganya sepakat untuk menjual semua hewan yang mereka punya dan pindah ke Kanada karena masalah politik dengan menumpang kapal. Namun kemudian kapal tersebut karam di lautan Pasifik, keluarga Pi dan sebagian besar binatang ikut tenggelam. Sedangkan Pi berhasil selamat dan terapung di sebuah rakit kecil bersama zebra, orang utan, hyena dan harimau. Ia pun berjuang untuk bertahan hidup. 

Selama hampir delapan bulan, Pi bertahan hidup dengan memancing. Pi berhasil mencapai pantai Meksico dan ditemukan tim penyelamat. Pi pun diwawancarai tentang peristiwa yang dialaminya. Sayangnya, mereka tak mempercayai apa yang ia ceritakan. Pi pun berpikir mereka tidak percaya karena ia mengikutsertakan para binatang.

PLOT CERITA

Seorang pria bernama Pi menceritakan kisah yang terjadi ketika ia berusia 16 tahun. Ketika keluarganya memutuskan untuk memindahkan kebun binatang mereka dari India ke Kanada, Pi menjadi satu-satunya orang yang selamat dari karamnya kapal kargo yang mereka tumpangi. 

Di atas sekoci, ia bersama hewan lainnya yang selamat, seekor zebra yang mengalami patah kaki, seekor hyena, orangutan betina dan Harimau Benggala agresif bernama Richard Parker. Hyena memangsa zebra dan kemudian orangutan. Setelah harimau memangsa hyena, Pi mencoba menangkap ikan untuk ia berikan kepada harimau sebelum ia sendiri menjadi santapan. 

Ketika petugas dari Departemen Kelautan tidak mempercayai ceritanya, Pi akhirnya mengubah kisahnya. Kali ini, ia mengaku bersekoci dengan ibunya, seorang pelaut dengan kaki yang patah, dan juru masak kapal, yang membunuh si pelaut dan Ibu Pi.

Bagaimana? Tertarik untuk menonton film ini?

Menurut saya, film ini sangat bagus. Dari segi pengambilan gambar, suara. Hingga proses editing yang cukup apik. Juga visual efek yang di tampilkan dalam film ini. Terlepas dari masalah teknis, sekarang kita coba ungkap lebih dalam. Apa yang sebenarnya menarik dalam film ini.

Jujur saja, saya baru satu kali menonton film ini. Dan selama pertunjukan film berlangsung, saya seperti tidak berada dalam gedung bioskop. Tapi seperti ikut merasakan apa yang terjadi dalam film itu.

Pernah terbayang oleh kalian, ketika sedang terdampar di tengah lautan luas. Hanya bermodalkan kapal penyalamat yang kecil (sekoci) dan di temani oleh seekor macan yang cukup buas. Pasti sulit untuk membayangkan hal tersebut bukan. Dan yang lebih mengerikan lagi, anda harus menahan lapar selama berhari-hari lamanya. Menahan rasa haus yang cukup dahaga setiap waktu. Saya berpikir, tidak ada yang sanggup untuk hidup dalam kondisi dan situasi yang cukup "gila" itu.

Namun di dalam film Life Of Pi, semua seperti tidak ada yang tidak mungkin. Selama berhari-hari Pi harus berkutat dalam situasi seperti itu. Pasca kapal besar yang ia tumpangi bersama keluarganya terbalik, karena badai yang begitu dahsyat. Beruntung bagi Pi ia masih bisa selamat, walau pun Ayah, Ibu. Dan saudaranya tidak bisa selamat. Pi pun sangat tidak merasa senang ketika menyadari dirinya telah selamat, karena disisi lain ia tidak bisa menyelamatkan hidup orang-orang yang sangat penting dalam hidupnya. Tidak cukup sampai disitu, penderitaan Pi harus bertambah ketika tak ada satu pun orang yang menyelamatkan dirinya. Dan ia harus berjuang hidup di tengah lautan yang begitu luas. Hanya ditemani beberapa sisa hewan yang masih hidup dari kebun binatang milik keluarganya, salah satunya adalah macan bengali yang bernama Richard Parker. Cukup buas dan menakutkan awalnya bagi Pi, tapi hal itu tidak berlangsung lama. Ia hanya butuh waktu beberapa hari untuk menguasai dan menjinakkan macan tersebut.

Selama berhari-hari itu pula Pi harus tetap berpikir dan berdoa, juga sesekali menyalahkan diri atas kejadian tersebut. Perlahan Pi mulai menemukan jalan dalam kebuntuan tesebut, mulai menemukan semangat untuk tetap hidup dan bertahan.

Pi adalah sosok yang jenius, dalam kekacauan itu. Ia tahu apa yang mesti ia lakukan, terus berusaha dan berjuang adalah hal yang selalu di lakukan oleh Pi. Sekecil apa pun kesempatan yang ia dapatkan untuk keluar dalam masalah tersebut, Pi tetap mengambilnya. Tidak jarang Pi merasakan lelah terhadap apa yang telah ia lakukan, dan merasa frustasi. Putus asa dan kecewa sudah pasti menghantui didalam benak seorang Pi, bagaimana tidak. Pi seperti merasa telah di buang oleh Tuhan, seperti di tampar dengan keras. Lebih keras dari tamparan ombak besar, yang setiap hari ia rasakan ketika sedang terjadi badai di lautan.

Walau pun Pi berada di tengah lautan yang begitu luas, ruang untuk dia bergerak hanya seukuran kapal yang begitu kecil. Tapi ia masih punya ruang pemikiran yang begitu luas, lebih luas dari lautan tersebut.

Jika kita mau masuk lebih dalam, kedalam cerita ini. Sesungguhnya kisah ini lebih kepada "perjalanan" spiritual seorang Pi kepada Tuhan. Ia benar-benar merasakan bahwa Tuhan itu ada, dan Tuhan telah mengajarkan banyak hal kepadanya.

Berikut ulasan yang telalu singkat dari saya tentang Film Life Of pi. Ada baiknya kalian menonton film tesebut, lalu berbagi pengalaman setelah menonton filmnya. Satu hal yang bisa saya pelajari, yaitu tentang bagaimana kita tahu bahwa Tuhan benar-benar bersama kita, bila kita tidak berada dalam situasi yang sulit seperti itu.