Judul : The Intern
Sutradara : Comedy
Skenario : Nancy Meyers
Pro duksi : Warner Bros.
Pictures Pemain :
Robert De Niro, Anne Hathaway, Rene Russo
Durasi : 2 jam 1 menit
BEN Whittaker (Robert De Niro) adalah
pensiunan berusia 70 tahun yang
hilang pegangan setelah kematian istrinya.
Ben tinggal seorang diri di rumahnya
yang resik. Anaknya sudah berkeluarga
dan tinggal di kota lain.
Hari-harinya diisi dengan menyibukkan diri:
ke Starbucks pukul 7 pagi, membeli lasagna
beku porsi satu orang, berlatih yoga dan taichi,
sampai les bahasa Mandarin, tapi tetap saja tak
dapat mengisi kesepiannya.
Pernah dia habiskan
tabungan untuk keliling dunia. Tapi, begitu pulang,
dan tak ada siapa pun yang menyambut di
rumah, kembali Ben merasa kehilangan tujuan
Di sebuah sudut jalan, Ben melihat iklan
“magang senior” untuk toko baju online yang
sedang berkembang pesat, About
the Fit (ATF).
Dia pun melamar.
Ben diterima bersama empat pemagang
senior dan satu junior, dan ditempatkan di
“bagian umum” untuk sang pemilik ATF, Jules
Ostin (Anne Hathaway). Jules adalah perempuan
stylish berusia 30-an yang bergerak cepat.
Dia bahkan naik sepeda di dalam kantor demi
menghemat waktu. Kadang ikut menerima
telepon keluhan pelanggan untuk sekadar mengecek
basis kliennya, dan memeriksa detail
tampilan website. Jules pun pulang paling akhir.
Kerjanya yang sangat sibuk itu memicu konflik
di keluarga. Ibunya mencereweti agar dia
tidur cukup, suaminya (yang bapak rumah
tangga) resah seiring dengan makin besarnya
perusahaan Jules, dan makin sedikit waktu
bersama putrinya yang masih TK. Belakangan,
ketahuan kalau sang suami berselingkuh.
Dalam keadaan demikianlah Ben masuk kehidupan
Jules dan mengenal keluarga bos barunya
ini. Akankah Ben menggunakan kebijaksa-naannya untuk ikut menyelesaikan
masalah pekerjaan dan keluarga
Jules, sekaligus menemukan arti
baru dalam hidupnya sendiri?
Dengan cerita dan alur yang standar,
The Intern bisa tampil menggigit
dan sejalan
dengan perkembangan
dunia kerja terbaru. Jangan tertukar
film ini dengan The Internship yang
diperankan Owen Wilson dan Vince
Vaughn pada 2013.
The Intern mengeluarkan humor
dan kesedihan yang sama porsinya, dengan
tone mewah dan lembut. Suguhannya “sesuai
yang dijanjikan”, tak kurang, tak lebih.
Bukan
berarti karya ini buruk, melainkan pelajaran
yang dapat dipetik, perasaan yang diperoleh,
dan kebijaksanaan yang tersampaikan setara
dengan tiket yang dibeli untuk menonton sebuah
film komedi.
Film ini bagai selimut tebal yang membungkus
kita dalam sebuah pelukan nyaman. Jadi
jangan bertanya mengapa film ini tidak dibuat
lebih kasar, lebih tangguh, dan lebih cerdas,
karena memang demikianlah idealnya.
Naskah Meyers punya tone mantap dan
menikung di tempat yang tak disangka-sangka.
Misalnya dia menyelipkan adegan e-mail salah
kirim yang lucu, padahal jika diperhatikan, tidak
bersambungan ke adegan sebelum maupun sesudahnya.
Jika pernah menonton Something’s Gotta
Give (2003), It’s Complicated (2009), What
Women Want (2000), The Parent Trap (1998),
atau The Holiday (2006), Anda akan paham
mengapa Meyers membuat The Intern seperti
ini. Termasuk subplot masuknya seorang pemijat
profesional (masseur), Fiona (Renee Russo),
yang menarik perhatian Ben.
Walau skenarionya sedikit datar dan standar,
syukurlah aktris-aktornya mengeksekusi kewajiban
mereka dengan cukup baik. De Niro
memainkan karakter nyata dan bisa kita temui
setiap hari, bukan sekadar kumpulan “akting
hebat” dan ekspresi wajah yang kuat. Melihat
Ben menyetir mobil untuk Jules dalam posisi
sopir dan penumpang sambil mengeluarkan
satu-dua kalimat bijak, kita seperti diingatkan
pada peran ikonis De Niro di Taxi Driver (1976)
bersama Jodie Foster.
Hathaway juga memberikan setiap momen
dan kalimat dengan apik, sampai-sampai tak
tega melihatnya menangis hingga merah seluruh
wajahnya.
Sinematografer Stephen Goldblatt (The Help
dan Get on Up) membuat tampilan cantik,
meski terlalu teratur dan rapi, hingga karakterkarakternya
terasa seperti berjalan melalui area
ruang pamer furnitur mewah.
The Intern anggun, mulus tanpa cacat, tapi
masih kurang di unsur tegangan dan percikan
semangat yang membuatnya hidup, kecuali
momen ketika Ben dan Jules berseberangan
paham. Pada akhirnya, memang Hathaway dan
De Niro yang menuntaskan tugas menghibur
penonton, bukan Meyers si sutradara atau
Meyers si penulis skenario. ■





.jpg)






