0

Lily Bunga Terakhirku

Label:




Judul: Lily Bunga Terakhirku 
Gendre: psycho-thriller 
Sutradara: Indra Birowo 
Skenario: Priesnanda Dwi Satria, Ilya Sigma


JANGAN terkecoh oleh judul yang mirip drama cinta garing. Jangan juga terpengaruh oleh poster yang standar, sestandar-standarnya film Indonesia. Indra Birowo punya kado bagus untuk penonton film Indonesia.

Bercerita tentang Tura, yang hidupnya berhenti saat menyaksikan ibunya tewas setelah diperkosa dua lelaki yang menyusup ke rumah. Dia masih bocah kala itu, tak dapat melakukan apa-apa selain bersembunyi dan menahan supaya tangisnya tak bersuara. Setelah dua lelaki itu pergi, seorang diri Tura menguburkan ibunya di halaman rumah.

Hingga dewasa, Tura (Baim Wong) tetap tinggal di rumah pegunungan itu, mengurus kebun bunga warisan ibunya dan menjualnya dalam bentuk karangan bunga. Salah satu pelanggan adalah Bunda (Wulan Guritno), yang mengelola usaha prostitusi kelas atas di sebuah rumah mewah. Tura sendiri yang mengantar bunga-bunganya. 

Setiap bunga datang, Bunda akan memilihkan satu kuntum lili untuk disematkan di dada Lily (Salvita Decorte), salah seorang “anak”-nya yang juga primadona di kalangan pelanggan. Namun, pada kedatangan Tura yang kesekian kali, Lily ingin Tura-lah yang memilih dan menyematkan bunga lili di dadanya. 

Tura, yang terus dibayang-bayangi trauma masa lalu, masih belum berdamai dengan keadaan. Dia tak henti menyalahkan dirinya lantaran tak berbuat apa-apa ketika sang ibu sedang sangat butuh bantuan. Tura menempuh jalan sendiri dan rahasia: dia meringkus tiap ada pemerkosa yang jadi buron, lalu dibawa ke gudang di belakang rumah. Dan dalam keadaan babak-belur dantubuh terikat ke brankar, pemerkosa itu dicekoki ramuan maut bunga trompet, lalu brankar didorong ke dalam kamar gas. Api pun dinyalakan. Whussss…. 

Abu jenazah dikumpulkan,dipakai sebagai pupuk, sebagaimana ibunya pernah mengajarkan pupuk terbaik adalah benda yang pernah hidup. Pemerkosa yang jadi buron lenyap sudah, berubah wujud jadi bunga-bunga yang cantik dan subur. 

Lily mendapat klien orang penting (Tanta Ginting) yang, menurut Bunda, sangat menentukan masa depan bisnisnya. Dia memperlakukan Lily dengan sangat kasar, bahkan memperkosanya. Namun Bunda tak mau merisikokan bisnisnya, dan meminta Lily kembali ke kamar untuk melayani klien penting ini. Kedekatan Lily dengan Tura seperti ruas bertemu buku. Mereka sama-sama merasa menemukan jalan keluar atas masalah mereka pada diri orang di hadapannya. 

Debut Indra Birowo sebagai sutradara film layar lebar patut dipuji. Indra keluar dari stereotipe yang menempel pada nama besarnya sebagai komedian untuk membuat film “nyeleneh” yang bergenre psycho-thriller. Plot dan visualnya terasa sekali seperti film-film Eropa yang “tak banyak tingkah”, hanya berfokus pada cerita dan menciptakan karakter yang kuat. Tengok saja setnya yang cuma dua, di rumah Tura dan di rumah Bunda. Karakter utamanya juga tiga itu saja: Tura, Lily, dan Bunda. 

Namun penonton akan dibuat betah duduk hingga film habis tanpa merasa bosan. Dialognya diperhatikan benar kecuali satu-dua yang lolos, seperti kebiasaan Baim Wong bilang “ya?” tiap jeda kalimat. Bahkan panggilan “bunda” untuk karakter yang dimainkan Wulan Guritno juga sudah dipertimbangkan masak-masak, bukan sekadar ingin beda dari profesi germo lain yang identik dengan sapaan “mami”. 

Indra diuntungkan karena didukung pemain yang punya wawasan akting bagus sehingga, ketika disodori peran, bisa dengan mudah mencerna, mudah mengembangkan karakter, dan improvisasi tidak lari ke mana-mana. Chemistry antarpemain pun kuat terasa. Baim Wong, yang biasanya berperan sebagai tokoh protagonis yang lembut, romantis, dan religius, kini membuktikan mampu bermain sebagai psikopat. Dari sosok penyayang yang lembut seketika berubah jadi obsesif dan kejam. Salvita Decorte, yang berlatar belakang model, di sini berperan sebagai penjaja seks kelas atas yang memberontak ingin lepas dari pekerjaan itu. Di antara gelontoran film drama percintaan ala FTV, religi (padahal ujung-ujungnya drama percintaan juga), dan komedi, film ini menawarkan racikan yang beda. Sedap. ■ SILVIA

0

Black Mass

Label:


SETELAH kelamaan berlibur di Karibia, Johnny Depp akhirnya kembali bermain serius. Kali ini di Black Mass, yang diangkat dari kisah nyata gangster besar yang sarat adegan pembunuhan, penyiksaan, pengkhianatan, dan balas dendam. Semua berangkat dari kerja sama rahasia antara geng kriminal kelas atas Boston dan FBI. Winter Hill Gang milik James “Whitey” Bulger (Johnny Depp) adalah penguasa Boston Selatan, tak lama setelah Bulger dibebaskan dari satu dekade hukuman penjara federal, termasuk Alcatraz. Geng ini menjalankan bisnis pemerasan, penipuan, narkoba, hingga pencucian uang.

Adik Bulger, Billy (Benedict Cumberbatch), yang merupakan senator paling berpengaruh di Negara Bagian Massachusetts, menutup mata atas sepak terjang abangnya. Satu-satunya yang tak dapat Bulger kontrol adalah takdir atas anak tunggalnya, bocah laki-laki berusia 6 tahun yang mati akibat reaksi alergi suntikan. Ditambah dengan kematian ibunya, kegembiraan hilang dari wajah Bulger..

Pada 1975, FBI mengajaknya “kerja sama” menggulung mafia Italia, keluarga Angiulo, yang menguasai Boston Utara. Tentu saja Bulger tak menolak, karena mengalahkan Angiulo berarti tiket untuk menguasai seluruh Boston. Informasi yang dia berikan kepada agen FBI, John Connolly (Joel Edgerton), membuat Angiulo dapat diringkus. Seluruh Boston kini milik Bulger. Connolly, yang tak lain kawan masa kecil, dia jadikan “Yes Man”-nya..

Dari preman kampung di kawasan kumuh Boston, Winter Hill Gang jadi gangster besar karena operasinya dilindungi FBI. Mereka berlanjut membunuh sejumlah pengusaha berpengaruh seiring ambisi Bulger yang ingin meluaskan usaha di luar Boston, yang artinya sudah di luar perjanjian rahasia dengan FBI. Keberatan Connolly tak diindahkan. Sementara itu, di kalangan internal FBI baru saja terjadi pergantian pimpinan. Bos baru ini dikenal lurus dan tak kenal ampun. Segera dia mengendus ada yang tak beres dengan Connolly serta cara FBI menangani Winter Hill Gang dan Bulger..

Setelah mendapat nominasi pertama Oscar sebagai Aktor Terbaik dalam Pirates of the Caribbean (2003), Johnny Depp seakan-akan terkubur dalam karakter Jack Sparrow melalui tiga sekuel Pirates (yang ke-4 disiapkan untuk 2017)..

Banyak bakatnya jadi tersia-sia. Padahal Sparrow diterima publik tak lebih sebagai pengisi kekosongan akibat absen panjang Indiana Jones yang tanpa pengganti. Peran yang lebih “konvensional” di The Tourist (2010) dan Transcendence (2014) tak lebih dari perilaku bunglon. Black Mass mesti menggantikan semua itu. Dalam film baru ini, Depp sekali lagi memakai kulit lateks dan wig metamorfis agar sebisa mungkin mendekati kondisi nyata. Rambut pirang tipis disisir ke belakang, gigi menghitam, dan bola mata biru (menggunakan contact lens)..

Jaket kulit hitam menguatkan pengaruhnya, kalung rantai emas melingkari leher, kacamata hitam aviator menggantikan topi fedora khas gangster, dan bayang-bayang para aktor di fasad yang dingin. Terasa sekali ikatan tak kasatmata ke tonggak film-film gangster, seperti Goodfellas (1990), Carlito’s Way (1993), The Departed (2006), dan Donnie Brasco (1997) yang dimainkan Depp..

Dia menyelam hingga ke dasar untuk memerankan sosok James “Whitey” Bulger, gembong penjahat Boston Selatan dari era 1970-an hingga 1994, disusul jadi buron selama 16 tahun. Dari puluhan nama, Bulger hanya dikalahkan Usamah bin Ladin dalam daftar Sepuluh Paling Dicari FBI..

Sutradara Scott Cooper tak pernah memaksa Depp untuk “berakting”. Tak ada momen ledakan emosi ala Al Pacino, tak ada akting membanting-banting tak masuk akal seperti Pesci. Bulger menghadapi kehilangan yang berat dengan menggemeretakkan gigi dan membalikkan meja, tak pernah berlebihan. Sewaktu Bulger tanpa ekspresi menembakkan peluru ke arah anggota geng yang tak sepakat atau mencekik musuh dengan tangan kosong, dia jadi sesosok malaikat maut yang metodikal dan sadar benar apa yang dilakukannya. Cooper melipatgandakan adegan kekerasan guna mendapat impact visual yang tajam dan menunjukkan bagaimana realisme jalanan. Dia menghindari tindakan ekstrem dan bentuk adegan potong-cepat seperti yang sekarang sedang jadi tren. .

Namun khusus beberapa adegan kunci dramatis dalam ruang, Cooper tampaknya mendekati penampilan film-film Godfather, dengan cara kerja yang sangat mirip Coppola. Komposisinya dimulai secara hati-hati, shot-shot keren dibuat dengan keketatan yang tak biasa, dan close-up-nya terjaga..

Mark Mallouk dan Jez Butterworth menulis skenario berdasarkan testimonium anak buah lama Bulger setelah mereka ditahan dan saat bos mereka jadi buron. Komentar mereka tak bertentangan, bahwa Bulger adalah penjahatnya penjahat, orang paling jahat di Boston. Tindakannya benar-benar mengerikan. Dia bisa memberi perintah tanpa satu kata pun kepada anggota geng..

Setelah akhirnya tertangkap pada usia 80- an, Bulger divonis dua kali hukuman penjara seumur hidup plus lima tahun setelah didakwa 19 kasus pembunuhan, pemerasan, penipuan, penjualan narkoba, dan pencucian uang. Aktor-aktor pendukung membuat penampilan Depp makin bersinar, yakni Adam Scott dan Kevin Bacon sebagai agen federal, serta Corey Stoll sebagai jaksa federal yang bertekad mengalahkan Bulger. Cumberbatch demikian elegan sebagai adik Bulger yang berhasil keluar dari daerah kumuh, punya sembilan anak, dalam jangka panjang mengabdi sebagai Presiden Senat Massachusetts, lalu jadi Presiden University of Massachusetts. Kali ini tak ditemui Cumberbatch beraksen Inggris. .

Depp sekarismatik karakternya, meyakinkan dan mengerikan. Insting Depp untuk mengamati, menjaga, dan memperkaya sesuatu, lalu dikeluarkan saat dibutuhkan, mendapat ganjaran besar di sini. Penampilannya jauh lebih meyakinkan dibanding peran gangster sebelumnya, sebagai John Dillinger dalam Public Enemies (2009) garapan Michael Mann. Salah satu yang terbaik dalam kariernya, dan klasik (Silvia G.)