SETELAH kelamaan berlibur di Karibia,
Johnny Depp akhirnya kembali
bermain serius. Kali ini di Black Mass,
yang diangkat dari kisah nyata gangster
besar yang sarat adegan pembunuhan,
penyiksaan, pengkhianatan, dan balas dendam.
Semua berangkat dari kerja sama rahasia antara
geng kriminal kelas atas Boston dan FBI.
Winter Hill Gang milik James “Whitey” Bulger
(Johnny Depp) adalah penguasa Boston Selatan,
tak lama setelah Bulger dibebaskan dari satu
dekade hukuman penjara federal, termasuk Alcatraz.
Geng ini menjalankan bisnis pemerasan,
penipuan, narkoba, hingga pencucian uang.
Adik Bulger, Billy (Benedict Cumberbatch),
yang merupakan senator paling berpengaruh
di Negara Bagian Massachusetts, menutup
mata atas sepak terjang abangnya. Satu-satunya
yang tak dapat Bulger kontrol adalah takdir
atas anak tunggalnya, bocah laki-laki berusia 6
tahun yang mati akibat reaksi alergi suntikan.
Ditambah dengan kematian ibunya, kegembiraan
hilang dari wajah Bulger..
Pada 1975, FBI mengajaknya “kerja sama”
menggulung mafia Italia, keluarga Angiulo,
yang menguasai Boston Utara. Tentu saja Bulger
tak menolak, karena mengalahkan Angiulo
berarti tiket untuk menguasai seluruh Boston.
Informasi yang dia berikan kepada agen FBI,
John Connolly (Joel Edgerton), membuat Angiulo
dapat diringkus. Seluruh Boston kini milik
Bulger. Connolly, yang tak lain kawan masa
kecil, dia jadikan “Yes Man”-nya..
Dari preman kampung di kawasan kumuh
Boston, Winter Hill Gang jadi gangster besar
karena operasinya dilindungi FBI. Mereka
berlanjut membunuh sejumlah pengusaha
berpengaruh seiring ambisi Bulger yang ingin meluaskan usaha di luar Boston,
yang artinya sudah di luar perjanjian
rahasia dengan FBI. Keberatan
Connolly tak diindahkan.
Sementara itu, di kalangan internal
FBI baru saja terjadi pergantian
pimpinan. Bos baru ini dikenal lurus
dan tak kenal ampun. Segera dia
mengendus ada yang tak beres
dengan Connolly serta cara FBI
menangani Winter Hill Gang dan
Bulger..
Setelah mendapat nominasi pertama Oscar
sebagai Aktor Terbaik dalam Pirates of the
Caribbean (2003), Johnny Depp seakan-akan
terkubur dalam karakter Jack Sparrow melalui
tiga sekuel Pirates (yang ke-4 disiapkan untuk
2017)..
Banyak bakatnya jadi tersia-sia. Padahal Sparrow
diterima publik tak lebih sebagai pengisi
kekosongan akibat absen panjang Indiana
Jones yang tanpa pengganti. Peran yang lebih
“konvensional” di The Tourist (2010) dan Transcendence
(2014) tak lebih dari perilaku bunglon.
Black Mass mesti menggantikan semua itu.
Dalam film baru ini, Depp sekali lagi memakai
kulit lateks dan wig metamorfis agar sebisa
mungkin mendekati kondisi nyata. Rambut
pirang tipis disisir ke belakang, gigi menghitam,
dan bola mata biru (menggunakan contact lens)..
Jaket kulit hitam menguatkan pengaruhnya,
kalung rantai emas melingkari leher, kacamata
hitam aviator menggantikan topi fedora khas
gangster, dan bayang-bayang para aktor di
fasad yang dingin. Terasa sekali ikatan tak kasatmata
ke tonggak film-film gangster, seperti
Goodfellas (1990), Carlito’s Way (1993), The Departed (2006), dan Donnie Brasco (1997) yang
dimainkan Depp..
Dia menyelam hingga ke dasar untuk memerankan
sosok James “Whitey” Bulger, gembong
penjahat Boston Selatan dari era 1970-an hingga
1994, disusul jadi buron selama 16 tahun.
Dari puluhan nama, Bulger hanya dikalahkan
Usamah bin Ladin dalam daftar Sepuluh Paling
Dicari FBI..
Sutradara Scott Cooper tak pernah memaksa
Depp untuk “berakting”. Tak ada momen
ledakan emosi ala Al Pacino, tak ada akting
membanting-banting tak masuk akal seperti
Pesci. Bulger menghadapi kehilangan yang
berat dengan menggemeretakkan gigi dan
membalikkan meja, tak pernah berlebihan.
Sewaktu Bulger tanpa ekspresi menembakkan peluru ke arah anggota geng yang tak sepakat
atau mencekik musuh dengan tangan kosong,
dia jadi sesosok malaikat maut yang metodikal
dan sadar benar apa yang dilakukannya.
Cooper melipatgandakan adegan kekerasan
guna mendapat impact visual yang tajam dan
menunjukkan bagaimana realisme jalanan. Dia
menghindari tindakan ekstrem dan bentuk
adegan potong-cepat seperti yang sekarang
sedang jadi tren. .
Namun khusus beberapa adegan kunci dramatis
dalam ruang, Cooper tampaknya mendekati
penampilan film-film Godfather, dengan
cara kerja yang sangat mirip Coppola. Komposisinya
dimulai secara hati-hati, shot-shot keren
dibuat dengan keketatan yang tak biasa, dan
close-up-nya terjaga..
Mark Mallouk dan Jez Butterworth menulis
skenario berdasarkan testimonium anak buah
lama Bulger setelah mereka ditahan dan saat
bos mereka jadi buron. Komentar mereka tak
bertentangan, bahwa Bulger adalah penjahatnya
penjahat, orang paling jahat di Boston.
Tindakannya benar-benar mengerikan. Dia bisa
memberi perintah tanpa satu kata pun kepada
anggota geng..
Setelah akhirnya tertangkap pada usia 80-
an, Bulger divonis dua kali hukuman penjara
seumur hidup plus lima tahun setelah didakwa
19 kasus pembunuhan, pemerasan, penipuan,
penjualan narkoba, dan pencucian uang.
Aktor-aktor pendukung membuat penampilan
Depp makin bersinar, yakni Adam Scott
dan Kevin Bacon sebagai agen federal, serta
Corey Stoll sebagai jaksa federal yang bertekad mengalahkan Bulger. Cumberbatch demikian
elegan sebagai adik Bulger yang berhasil keluar
dari daerah kumuh, punya sembilan anak, dalam
jangka panjang mengabdi sebagai Presiden Senat
Massachusetts, lalu jadi Presiden University
of Massachusetts. Kali ini tak ditemui Cumberbatch
beraksen Inggris. .
Depp sekarismatik karakternya, meyakinkan
dan mengerikan. Insting Depp untuk mengamati,
menjaga, dan memperkaya sesuatu, lalu dikeluarkan
saat dibutuhkan, mendapat ganjaran besar
di sini. Penampilannya jauh lebih meyakinkan
dibanding peran gangster sebelumnya, sebagai
John Dillinger dalam Public Enemies (2009) garapan
Michael Mann. Salah satu yang terbaik dalam
kariernya, dan klasik (Silvia G.)


0 komentar:
Posting Komentar