Judul: Lily Bunga Terakhirku
Gendre: psycho-thriller
Sutradara: Indra Birowo
Skenario: Priesnanda Dwi Satria, Ilya Sigma
JANGAN terkecoh oleh judul yang
mirip drama cinta garing. Jangan juga
terpengaruh oleh poster yang standar,
sestandar-standarnya film Indonesia.
Indra Birowo punya kado bagus untuk penonton
film Indonesia.
Bercerita tentang Tura, yang hidupnya berhenti
saat menyaksikan ibunya tewas setelah
diperkosa dua lelaki yang menyusup ke rumah.
Dia masih bocah kala itu, tak dapat melakukan
apa-apa selain bersembunyi dan menahan supaya
tangisnya tak bersuara. Setelah dua lelaki itu
pergi, seorang diri Tura menguburkan ibunya di
halaman rumah.
Hingga dewasa, Tura (Baim Wong) tetap
tinggal di rumah pegunungan itu, mengurus
kebun bunga warisan ibunya dan menjualnya
dalam bentuk karangan bunga. Salah satu pelanggan adalah Bunda (Wulan Guritno), yang
mengelola usaha prostitusi kelas atas di sebuah
rumah mewah. Tura sendiri yang mengantar
bunga-bunganya.
Setiap bunga datang, Bunda akan memilihkan
satu kuntum lili untuk disematkan di dada
Lily (Salvita Decorte), salah seorang “anak”-nya
yang juga primadona di kalangan pelanggan.
Namun, pada kedatangan Tura yang kesekian
kali, Lily ingin Tura-lah yang memilih dan menyematkan bunga lili di dadanya.
Tura, yang terus dibayang-bayangi trauma
masa lalu, masih belum berdamai dengan
keadaan. Dia tak henti menyalahkan dirinya
lantaran tak berbuat apa-apa ketika sang ibu
sedang sangat butuh bantuan.
Tura menempuh jalan sendiri dan rahasia:
dia meringkus tiap ada pemerkosa yang jadi
buron, lalu dibawa ke gudang di belakang
rumah. Dan dalam keadaan babak-belur dantubuh terikat ke brankar, pemerkosa itu dicekoki ramuan maut bunga trompet, lalu brankar didorong
ke dalam kamar gas. Api pun dinyalakan. Whussss….
Abu jenazah dikumpulkan,dipakai sebagai pupuk, sebagaimana ibunya pernah mengajarkan
pupuk terbaik adalah benda yang
pernah hidup. Pemerkosa yang
jadi buron lenyap sudah, berubah
wujud jadi bunga-bunga yang
cantik dan subur.
Lily mendapat klien orang penting (Tanta
Ginting) yang, menurut Bunda, sangat menentukan
masa depan bisnisnya. Dia memperlakukan
Lily dengan sangat kasar, bahkan memperkosanya.
Namun Bunda tak mau merisikokan
bisnisnya, dan meminta Lily kembali ke kamar
untuk melayani klien penting ini.
Kedekatan Lily dengan Tura seperti ruas
bertemu buku. Mereka sama-sama merasa
menemukan jalan keluar atas masalah mereka
pada diri orang di hadapannya.
Debut Indra Birowo sebagai sutradara film
layar lebar patut dipuji. Indra keluar dari stereotipe
yang menempel pada nama besarnya
sebagai komedian untuk membuat film “nyeleneh”
yang bergenre psycho-thriller.
Plot dan visualnya terasa sekali seperti film-film Eropa yang “tak banyak tingkah”,
hanya berfokus pada cerita dan menciptakan
karakter yang kuat. Tengok saja setnya
yang cuma dua, di rumah Tura dan di rumah
Bunda. Karakter utamanya juga tiga itu saja:
Tura, Lily, dan Bunda.
Namun penonton akan dibuat betah duduk
hingga film habis tanpa merasa bosan. Dialognya
diperhatikan benar kecuali satu-dua yang
lolos, seperti kebiasaan Baim Wong bilang
“ya?” tiap jeda kalimat.
Bahkan panggilan “bunda” untuk karakter
yang dimainkan Wulan Guritno juga sudah
dipertimbangkan masak-masak, bukan sekadar
ingin beda dari profesi germo lain yang identik
dengan sapaan “mami”.
Indra diuntungkan karena didukung pemain
yang punya wawasan akting bagus sehingga,
ketika disodori peran, bisa dengan mudah
mencerna, mudah mengembangkan karakter,
dan improvisasi tidak lari ke mana-mana. Chemistry
antarpemain pun kuat terasa.
Baim Wong, yang biasanya berperan sebagai
tokoh protagonis yang lembut, romantis, dan religius, kini membuktikan mampu bermain
sebagai psikopat. Dari sosok penyayang yang
lembut seketika berubah jadi obsesif dan kejam.
Salvita Decorte, yang berlatar belakang
model, di sini berperan sebagai penjaja seks
kelas atas yang memberontak ingin lepas dari
pekerjaan itu. Di antara gelontoran film drama
percintaan ala FTV, religi (padahal ujung-ujungnya
drama percintaan juga), dan komedi, film
ini menawarkan racikan yang beda. Sedap. ■
SILVIA


0 komentar:
Posting Komentar